Bibit siklon 90S tumbuh dari vorteks di Samudra Hindia. Wilayah Jawa bagian barat mengalami dampak tak langsung mulai hari ini.
Bibit siklon tropis baru terpantau terbentuk di Samudra Hindia. Bibit siklon 90S tersebut tumbuh dari vorteks yang pernah berdampak menyebabkan hujan intensitas tinggi di Jabodetabek lebih dari sepekan lalu.
“Pertumbuhan vorteks tempo hari yang telah melemah kini menjadi bibit siklon 90S di Samudra Hindia, menciptakan area terdampak langsung maupun tak langsung,” kata Profesor Riset di Bidang Klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin pada Senin, 14 Juli 2025.
Erma membagi area terdampak menjadi terdampak langsung dan tidak langsung. Yang pertama meliputi wilayah Sumatera bagian utara dan sepanjang pesisir barat Sumatera. Sedangkan wilayah terdampak tak langsung meliputi Sumatera bagian selatan, Jawa, dan sebagian Kalimantan.
“Di area terdampak, hujan intensif dan angin terjadi dengan berbagai mekanisme dan skala: Mesoscale Convective Complex (klaster kumpulan awan kumulonimbus), Squall Line (barisan awan kumulonimbus), persisten, sporadis,” kata Erma menambahkan.
Dalam perkembangan terkini yang dipantau Erma, sebanyak tiga MCC telah terbentuk di pesisir barat Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada Senin siang. Dua MCC, yang ada di pesisir barat Sumatera Utara dan Sumatera Barat, kemudian bergabung menciptakan Mesoscale Convective System (MCS), klaster awan kumulonimbus yang lebih besar lagi dengan radius klaster minimal 200 kilometer, pada Senin malam ini.
“Agar waspada untuk Sumut-Sumbar yang menjadi area terdampak langsung bibit siklon 90S,” katanya sambil menambahkan, “Semoga tidak ada bencana jika MCS tersebut masuk ke darat.”
Menurut Erma, dampak tidak langsung akan dialami Jawa bagian barat mulai hari ini juga. Saat bibit siklon tumbuh semakin kuat, yang diprediksi memuncak pada 16 Juli nanti, dia mengatakan, “Dampak meluas di Jawa khususnya Pantura.”

